Rabu, 13 Juli 2011

Temukan Bakat Anak Cerdas Gerak

Anak Cerdas gerak (kinestetik) biasanya menunjukkan kemampuan dan ketrampilan gerak yang melebihi kemampuan anak seusianya. Psikolog anak dari Universitas Paramadina, Alzena Masykouri MPsi mengatakan, anak cerdas gerak menampilkan integrasi yang baik antara pikiran dan tubuh secara bersamaan untuk mencapai suatu tujuan.
Kegiatan-kegiatan sederhana dan sehari-hari yang berkaitan dengan kecerdasan ini, misalnya memanjat pohon, menerbangkan layangan, lompat tali dengan berbagai gaya, petak umpet, bahkan main kelereng. “Selain lihai, anak cerdas gerak mampu pula mengembangkan ketrampilan emosi dan sosialnya melalui kegiatan bergeraknya,”kata Alzena. Jadi tidak semata terampil, tetapi mereka juga mampu membawakan dirinya dengan sportivitas dan interaksi antara individu yang baik.
Bila anak tersebut memiliki minat dan kemampuan dibidang seni tari tak semua anak mampu meniru gerakan tarian dengan tepat hanya dengan melihatnya saja. Namun, anak dengan kecerdasan gerak memiliki kemampuan untuk dapat meniru, menghafal dan menghayati gerakan-gerakan tarian yang dilihatnya. Tak sekedar meniru, tapi juga mampu menampilkannya dengan baik. Sedangkan pada anak yang menggeluti bidang olahraga mereka mampu menangkap maksud pengarahan gerakan yang diajarkan dengan cepat. Selain itu juga mampu untuk menunjukkan ketrampilan teknik dalam melakukan aktivitas olahraga tertentu.
Jay A.Seitz, pakar pendidikan dari Philadelphia University,AS, dalam artikelnya The Development of Bodily-Kinesthetic Intelligence in Children: Implications for Education and Artistry mengatakan, menari ialah bentukan dari intelegensi artistik kinestetik. Umumnya anak mengekspresikan diri diawali dengan gerakan tubuh seperti mimik wajah, bahasa tubuh dan postur tubuh. Dikarenakan sensori reseptor yang menangkap sinyal gerakan berhubungan langsung dengan bagian otak yang mengatur emosi. Pengajaran menari berpotensi mengembangkan konsep ruang anak. Diawali dengan belajar arah (kanan-kiri) merupakan konsep dasar koordinasi tubuh. Seiring perkembangannya anak belajar bergerak ke atas - bawah dan ke depan - belakang yang merupakan gerakan tiga dimensi disebut kinesphere.
Logika Motorik
Sani B Hermawan, Psi, psikolog dan direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, mengatakan anak cerdas gerak umumnya memiliki kematangan motorik baik motorik kasar seperti berlari, menangkap, melempar dan memanjat tebing dan motorik halus seperti menulis, menggunting dan menempel. Kedua tipe gerakan ini membutuhkan koordinasi visual-motorik, ketepatan, keseimbangan dan kelenturan.
Seitz memaparkan, terdapat tiga pusat kemampuan kognitif didalam kecerdasan kinestetik yaitu logika motorik, memori kinestetik, dan kesadaran kinestetik. Ketiga elemen ini merupakan komponen penting dari gerak tubuh. Logika motorik merupakan kemampuan saraf otot untuk bergerak. Komponen kedua, memori kinestetik, kemampuan anak mengatur batas dari gerakan melalui konstruksi otot, gerakan, dan posisi dalam ruang. Sedangkan, komponen terakhir, kesadaran kinestetik merupakan kemampuan indera gerak anak untuk mengikuti perintah dan petunjuk. Indera gerak meneruskan informasi keotak yang kemudian mengatur postur tubuh, gerakan, dan perubahan keseimbangan tubuh.
Namun, lanjut Alzena, kecerdasan gerak tidak sekedar melibatkan gerakan saja, tapi juga melibatkan kemampuan berpikir. Misalnya, meniru gerakan tarian atau menendang bola ke arah gawang. Pada usia 3 tahun, biasanya anak mulai menunjukkan ciri - ciri keunggulan dalam kecerdasan kinestik. Kesiapan motoriknya sudah berkembang mendekati sempurna. Sejalan dengan kesiapan fisiknya, anak juga mulai berkembang kemampuan berpikirnya. Anak mulai mampu meniru serta menghafal gerakan. Sehingga, ketika diminta mengulang kembali gerakan tertentu, ia mampu melakukannya dengan baik.
Orangtua bisa menemukan bakat anak cerdas gerak sedini mungkin. Melalui olahraga atau seni, seperti menyanyi atau menari, anak dapat teramati kemampuan geraknya. Alzena memaparkan, kecerdasan ini dapat diamati saat anak mulai melakukan gerak bertujuan, misalnya berjalan, melompat, memanjat atau berlari. Bila anak terlihat mampu melakukan gerakan dengan sangat terampil dibandingkan anak seusianya, berarti ada kemungkinan ia memiliki kelebihan dalam kecerdasan gerak.
Orangtua dapat mengembangkan cerdas gerak anak dengan mengikutsertakannya dalam kegiatan terstruktur, misalnya les menari atau klub olahraga. Tentunya pilih klub atau les yang memang memiliki program untuk anak usia dini (mulai 3 tahun). Orangtua perlu mengamati minat anak yang sebenarnya. Bisa jadi ia memiliki kecerdsan gerak, namun belum berminat terhadap kegiatan-kegiatan yang melibatkan aktivitas motorik tersebut. Jadi, jangan berharap anak langsung menyukai kegiatan les yang dipilih.
Sani menambahkan, sebaiknya berikan stimulasi berupa kegiatan yang sesuai dengan usia anak juga meski anak cerdas gerak cenderung lebih mahir. Bagi anak yang lebih muda diberikan latihan yang sederhana, mudah ditiru, dan tidak berbahaya. Sedangkan, untuk yang lebih matang usianya diberikan kegiatan yang lebih kompleks, melibatkan kreativitas dan bersifat menantang.
Psikolog Dr. Mary Ann Diorio mengatakan, anak cerdas gerak memiliki intuisi alami untuk menggunakan fisiknya dan mengeksplorasi dunianya melalui interaksi dalam ruang. Mereka memproses informasi lewat sentuhan dan gerakan. Pesenam, penari, dan atlet masuk dalam kategori ini.
Goenawan Tedjo Sutikno, pelatih dan manager Sekolah Tenis Gunawan Tenis Fun Club, mengatakan kemampuan bermain tenis anak cerdas gerak berbeda dengan anak pada umumnya.” Ini terlihat dari cara anak mengambil keputusan dalam berlari dan memukul bola. Tak sekedar memukul bola dengan tepat dan keras, tapi juga memperhitungkan langkah - langkahnya sebagai strategi,” jelasnya. Untuk mencapai kemenangan anak juga harus cerdas membaca kelemahan dan kekuatan dirinya sendiri juga lawannya, dan mampu membaca situasi dan beradaptasi dilapangan misalnya arah angin dan kasar halusnya tekstur lapangan.” Kemampuan ini bisa diasah dengan latihan, kemampuan atau bakat anak menjadi nomor dua,”sambung Goenawan.
Goenawan memaparkan, anak cerdas gerak juga terlihat cepat dan tepat menangkap bola dalam permainan tangkap bola. Saat melemparkan bola kembali, anak juga mampu melempar dengan arah yang benar. Menurutnya, kemampuan ini bisa dilatih dengan memperbanyak bermain lempar - tangkap dirumah. Untuk melatih kecepatan dan reaksi gerak anak, lempar bola - bola pada anak dengan cepat lalu minta anak menangkap bola - bola tersebut dengan selembar kain.
Ade Nove, pelatih dan pemilik Fame Studio, mengatakan pada anak cerdas gerak yang berminat didunia seni tari bisa dilihat dari gerakan tubuh yang luwes.” Saat mendengarkan musik secara spontan tubuhnya akan bergerak mengikuti irama musik, sehingga terkadang anak terkesan centil,”katanya. Anak juga mudah mengikuti urutan gerak tari dan tampak luwes menarikannya. Selain itu mereka juga tidak malu - malu membuat gerakan tari sendiri meski belum dikatakan sempurna. “Anak bisa dilatih menari mulai usia 4 tahun, ajak anak mengikuti lomba menari untuk menimbulkan rasa percaya dirinya,”sambung Ade.
Namun, anak seringkali merasa bosan mengikuti les menari atau olahraga sekalipun ia memiliki bakat dan kecerdasan gerak. Orang tua harus jeli memilih jenis kegiatannya. “Perlu diingat, jangan hanya difokuskan pada pengembangan ketrampilan gerak atau ketubuhannya saja, tapi juga harus bisa mengembangkan kecerdasan - kecerdasan lainnya,”kata Alzena.
Tips Mengembangkan potensi anak tergolong cerdas gerak:
  • Sediakan ruang luas tempat anak bisa menyentuh apapun yang mereka lihat. Ajak anak ketempat - tempat yang memicu eksplorasinya dalam menyentuh.
  • Berikan anak ruang yang cukup untuk bergerak. Anak cerdas gerak belajar berinteraksi dengan ruang disekitarnya.
  • Minta anak berpartisipasi dalam aktifitas yang berorientasi pada gerakan seperti, senam, balet, dan olahraga. Beberapa aktifitas menawarkan anak belajar melalui interaksi spasial dan gerakan tubuh yang bermanfaat untuk membangun kepercayaan dirinya.
  • Bermain drama juga melatih kemampuan cerdas gerak anak.
  • Latih kemampuan motorik halus anak. Lakukan bebrapa kegiatan yang menunjang kemampuannya ini seperti memasukan manik - manik ke benang, menggunting kertas dan kegiatan kerajinan tangan lainnya.
Sani B Hermawan mengatakan, jika kecerdasan ini tidak diasah maka bakat tersebut hanya berupa potensi dan bukan berupa prestasi. Lingkungan perlu memberikan kesempatan dan keleluasaan anak untuk memunculkan bakatnya. Berikut beberapa pedoman untuk orangtua:
  1. Cerdas gerak juga merupakan kecerdasan yang perlu dikembangkan seperti kecerdasan lainnya.
  2. Orang tua perlu memberikan stimulus gerak sedini mungkin, misalnya dengan melatih anak menagkap bola, melatih gerakan mengikuti musik, melukis, menempel, dan lainnya.
  3. Sadari setiap anak unik dan memiliki minat berbeda dan membutuhkan lingkungan untuk mendukungnya.
  4. Ikutkan anak berbagai lomba yang melibatkan cerdas gerak untuk memastikan bakat dan minatnya.
  5. Cerdas gerak bisa dilatih lebih serius melalui sekolah informal, namun tetap dengan persetujuan anak dan jangan memaksanya.
  6. Hindari label bahwa anak cerdas gerak biasanya rendah dalam prestasi akademis.

Proses Belajar Mengajar

Aktivasi Otak Tengah

Aktivasi otak tengah adalah  suatu penemuan fenomenal dalam pendidikan anak. Teori penggunaan otak tengah sebenarnya telah banyak dilakukan pada banyak negara negara di Asia terutama Jepang. Jepang telah lama melakukan praktek aktivasi otak tengah pada anak-anak.Seorang anak yang telah diaktivasi otak tengah akan memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan anak yang otak tengahnya belum di aktivasi.

Kegiatan dengan mata tertutup adalah suatu kegiatan yang paling nyata dapat dilihat. Seorang anak yang telah diaktivasi otak tengahnya (Mid Brain Activated) dapat mempunyai kemampuan luar biasa. Kemampuan ini bahkan sering kali dipertontonkan secara menakjubkan dalam program hiburan sulap. Setelah melihat kemampuan anak yang telah diaktivasi, sebagian besar acara pertandingan sulap di The Master menjadi kurang menarik. Karena hal ini dapat dilakukan sendiri oleh anak-anak polos yang hanya mengikuti training aktivasi otak tengah selama 2 hari. Kemampuan dasar yang dapat dilakukan adalah ‘melihat’ kartu dengan mata ditutup (blind fold). Christofle (9 thn) misalnya, setelah mengikuti training aktivasi otak tengah, dapat mengurutkan seluruh kartu remi sesuai dengan angka, warna dan bentuk gambar kartu dengan mata tertutup. Ia dapat mempergunakan indra raba untuk melihat pola dan warna lengkap dengan angka hanya dengan penglihatan kulit (Skin Vision).

Kemampuan lain yang dapat dilakukan oleh anak-anak ini adalah berjalan dengan mata ditutup, tanpa menabrak. Dilakukan percobaan pada seorang anak yang berjalan dengan mata ditutup kain. Seseorang sengaja menghalangi jalan didepannya. Dia serta merta dapat menghindari rintangan tersebut tanpa menyentuhnya. Seorang anak bahkan dapat mengenali ayahnya diantara kerumunan orang-tua lainnya, tanpa menyentuh dan mendengar suaranya.

Pada tingkatan yang lebih lanjut seorang anak diharapkan dapat ‘melihat’ benda dibalik tembok atau didalam kotak. Ia bahkan dapat menghitung uang yang terdapat dalam dompet seeorang di hadapannya tanpa orang tersebut mengeluarkan dompetnya. Jika seorang anak rajin melatih fungsi otak tengahnya bahkan dia dapat mengharapkan membaca dokumen yang terletak dalam posisi tertutup.

Kemampuan prediksi (memperkirakan apa yang akan terjadi beberapa saat kemudian) adalah kemampuan yang lebih tinggi yang dapat di miliki oleh seorang anak. Seorang anak yang telah mendapat aktivasi otak tengah dapat ‘menduga’ kartu apa yang akan muncul pada saat orang tersebut masih mengocok kartunya. Begitu selesai mengocok, dan memilih sebuah kartu, orang tersebut mengambil sebuah kartu yang ternyata tepat seperti ‘dugaan’ sang anak tersebut.

Aktivasi otak tengah bukanlah suatu hal yang magis atau berbau supranatural. Aktivasi otak tengah dilakukan dengan secara ilmiah. Aktivasi otak tengah ini  banyak mempergunakan gelombang otak Alpha. Gelombang otak Alpha di buktikan secara ilmiah adalah gelombang otak yang muncul dominan pada saat kita dalam keadaan relax dan paling kreatif. Gelombang otak ini biasanya dominan pada saat kita bangun tidur, atau dalam keadaan relax di toilet, atau bahkan sedang berendam air panas di bathtub. Tidak heran mengapa Archimedes menemukan hukum Achimedes pada saat dia mandi.

Otak tengah yang teraktivasi memancarkan gelombang otak yang mirip seperti radar. Hal ini membuat pemiliknya mampu melihat benda dalam keadaan mata tertutup. Pada dasarnya, gelombang tersebut terletak di bawah hidung. Hanya mampu mendeteksi benda yang terletak sedikit di bawah hidung.

Latihan yang teratur dapat membuat sang anak menjadi lebih kuat dan mampu melihat benda yang terletak lebih tinggi lagi. Bahkan ada beberapa anak yang dapat medeteksi sampai 360 derajat. Hal itu berarti mereka dapat mendeteksi benda yang terletak di belakang, atas dan semua arah.

Training aktivasi otak tengah telah mulai dilakukan di Indonesia. Saat ini belum banyak orang yang mengetahui keberadaan dari training  ini. Training biasanya dilakukan selama 2 hari. Pada saat itu juga biasanya dilakukan training untuk para orang tua. Seperti juga bidang keahlian lainnya, orang tua berperan besar untuk dapat membantu anak mengembangkan potensi otak tengah mereka. Seorang anak dengan otak tengah yang kuat, diharapkan dapat mengembangkan otak kanan dan otak kiri secara lebih maksimal sehingga mereka dapat masuk kategori jenius. Bukan hanya dalam otak kiri (IQ, intelektual) , atau otak kanan (emosional, EQ) tetapi juga dalam ‘Loving Inteligence’. Mereka adalah individu yang seimbang dan mengasihi orang lain seperti sang pencipta mengasihi dia. Sayangnya training aktivasi otak tengah ini hanya dapat dilakukan untuk anak umur 5 – 15 tahun saja

Pendidikan Anak Usia Dini

Indonesia pada tahun 1990, telah menandatangani sebuah Deklarasi Dunia tentang Pendidikan Untuk Semua (Education for All Declaration) pada konferensi UNESCO, di Thailand. Deklarasi ini menjadi komitmen bersama, untuk menyediakan pendidikan dasar yang bermutu dan non diskriminatif, di masing-masing negara. Realisasi deklarasi tersebut juga sekaligus merupakan upaya untuk memenuhi Hak Pendidikan (sesuai pasal 26 Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia/DUHAM, bahwa “Setiap orang berhak memeproleh pendidikan. Pendidikan harus Cuma-Cuma, setidak-tidaknya untuk tingkat sekolah rendah dan pendidikan dasar.Pendidikan dasar diperlukan untuk menjaga perdamaian.”)
Pada tahun 2003, pemerintah mengeluarkan sebuah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menjamin hak atas “pendidikan dasar” bagi warga negara berusia tujuh hingga lima belas tahun. Namun, pendidikan untuk anak yang berusia dibawah tujuh tahun tidak dimasukkan sebagai pendidikan dasar.
Padahal, istilah pendidikan dasar seharusnya mulai berlaku mulai anak berusia 0-18 tahun. Hal ini sesuai dengan usia golden age atau keemasan anak, yaitu usia 0-9 tahun. Sedangkan menurut Konvensi Anak, yang disebut anak yaitu yang berusia 0-18 tahun. Jadi seharusnya UU mengenai Sistem Pendidikan Nasional tersebut mengakomodir usia anak dari umur 0-18 tahun tersebut.
Salah satu pemenuhan hak pendidikan sejak dini pada usia 3-5 tahun yang kemudian dilakukan masyarakat dan pemerintah yaitu program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Didalam pelaksanaannya, setiap kelurahan yang ada di Indonesia didorong untuk memiliki minimal satu PAUD. PAUD merupakan alternatif pemenuhan hak pendidikan selain Taman Kanak-Kanak (TK) atau Taman Pendidikan Alqur’an (TPA).
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2005, PAUD termasuk dalam jenis pendidikan Non Formal. Pendidikan Non Formal selain PAUD yaitu Tempat Penitipan Anak (TPA), Play Group dan PAUD Sejenis. PAUD sejenis artinya PAUD yang diselenggarakan bersama dengan program Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu untuk kesehatan ibu dan anak). Sedangkan pada Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), PAUD dimasukkan kedalam program Pendidikan Luar Sekolah (PLS).
Pada penyelenggaraan PAUD, jenis pendidikan ini tidak menggunakan kurikulum baku dari Depdiknas, melainkan menggunakan rencana pengajaran yang disebut Menu Besar. Menu Besar ini mencakup pendidikan moral dan nilai keagamaan, fisik/motorik, bahasa, sosial-emosional dan seni. Panduan dalam Menu Besar ini akan dikembangkan oleh tiap PAUD, berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masing-masing PAUD.
Selain tidak menggunakan kurikulum baku, PAUD juga ditujukan untuk kalangan ekonomi miskin. Karena biasanya PAUD tidak menarik iuran sekolah atau menarik iuran dengan jumlah yang sangat kecil. Hal ini untuk memenuhi hak pendidikan anak, mendapatkan pendidikan dasar secara cuma-cuma (Pasal 31 Konvensi Hak Anak).
Namun di beberapa PAUD, setelah berjalan dengan tidak adanya penarikan biaya, dikarenakan biaya operasional biasanya merupakan sumbangan dari berbagai pihak di masyarakat, ternyata mengalami beberapa kendala. Misalnya sumbangan yang didapat hanya dapat memenuhi bahan belajar murid, namun hal lain seperti honor para pendidik tidak dapat terpenuhi. Padahal, para pengajar PAUD seringkali memerlukan uang transport untuk menjangkau PAUD yang dibina. Selain itu, para orangtua murid juga meminta adanya rekreasi bersama atau pemakaian baju seragam. Dan untuk kebutuhan seperti ini, PAUD seringkali tidak memiliki dana. Kemudian, beberapa PAUD akhirnya menarik iuran sekolah. Tentunya iuran ini tidak bisa besar jumlahnya, karena para murid PAUD berasal dari keluarga miskin. Rata-rata mereka mengeluarkan sekitar 1000 perhari (dengan jam belajar hanya 2-3 kali seminggu) atau 10.000 per bulan.
Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional terutama Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah (PLS), sebetulnya sudah menyediakan dana untuk operasional PAUD. Namun dana yang ada ternyata tidak mencukupi kebutuhan operasional seluruh PAUD. Akhirnya dilakukan secara bergilir, pengguliran dana tersebut, dengan cara mengajukan proposal.
Dari masalah pembiayaan yang terjadi di PAUD tersebut, apabila berdasarkan DUHAM Pasal 26 tadi, maka akan terjadi kontradiksi. Pemenuhan hak pendidikan seharusnya gratis, namun kenyataannya belum bisa gratis. Bahwa untuk memenuhi hak pendidikan secara penuh, ternyata masih diperlukan biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat. Sebetulnya, masalah seperti itu tidak harus terjadi jika pemerintah melakukan upaya-upaya pemenuhan hak pendidikan dengan maksimal.
Pertama, pemerintah seharusnya memasukkan PAUD berusia dibawah 7 tahun sebagai suatu pendidikan dasar, yang harus dipenuhi pada warganegaranya, sehingga PAUD menjadi salah satu prioritas pemenuhan pendidikan dasar sesuai UU yang berlaku. Kedua, anggaran pendidikan tersendiri, tidak disatukan dengan anggaran kesehatan dan jumlahnya seharusnya terbesar dari pengeluaran negara lainnya didalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ketiga, dialokasikannya anggaran pendidikan yang terbesar jumlahnya dari pengeluaran daerah lainnya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Keempat, pengumpulan dana pajak atau retribusi dari perusahaan-perusahaan yang berada di wilayah PAUD, yang dilakukan oleh pemerintah setempat misalnya tiap kelurahan atau desa, yang dipergunakan terutama untuk pembiayaan pendidikan dasar, baik PAUD, TK, TPA, SD, MI sampai tinkat SMP. Dan yang terakhir, pengumpulan dana swadaya masyarakat, baik dilakukan oleh LSM atau masyarakat sendiri, terutama di tujukan untuk pemenuhan pendidikan bagi warganya sendiri.
Dengan adanya kerjasama, peran serta dan kejujuran semua pihak, untuk mencerdaskan bangsa, terutama anak-anak, maka hak pendidikan tingkat dasar dapat dipenuhi secara maksimal. Kita pun dapat melihat anak-anak, dari keluarga manapun, terutama keluarga miskin, terpenuhi hak pendidikannya. Pada tingkat selanjutnya, pendidikan yang berkualitas kemudian dapat menjadi rencana bersama, setelah hak pendidikan tingkat dasar tersebut terpenuhi.

 
Design by Puspa Putih | Bloggerized by Paud Puspa Putih | Pendawan Sambas